Sejarah dan Asal-usul Lebakbarang Pekalongan : Jejak Prajurit Pangeran Diponegoro dan Misteri Puncak Mahameru

jejak sejarah dan asal usul lebakbarang pekalongan

PEKALONGANMEDIA.COM - Lebakbarang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan pesona alam dan keanekaragaman sejarah yang memikat. Namun, tak banyak yang tahu bahwa nama "Lebakbarang" menyimpan kaitan erat dengan strategi Perang Diponegoro serta jejak para pejuang masa lalu.

Asal-usul Nama Lebakbarang

Pada masa lampau, wilayah ini dinamakan Kebakbarang, yang berasal dari gabungan kata bermakna lembah yang dipenuhi barang atau benda berharga.

Baca Juga : Jejak Perempuan Hebat Nusantara: Dari Nyai Ageng Serang hingga Ibu Agung Siti Ambariyah, Bukti Kesetaraan Gender Telah Ada Sebelum Kartini

Penamaan ini berkaitan erat dengan masa Perang Gerilya (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro saat Keraton Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Sebelum pihak kolonial menguasai istana secara penuh, para prajurit setia berhasil menyelamatkan berbagai benda pusaka peninggalan Raja Mataram dan membawanya ke tempat yang aman, yaitu Puncak Mahameru di kawasan Lebakbarang.

Pembukaan Wilayah dan Legenda Pohon Keramat

Sejarah pemukiman Lebakbarang berawal dari kedatangan dua pendatang asal Banjarnegara, yaitu Ki Kerta Jaya dan Ki Angganaya.

Tahun 1824 M: Ki Kerta Jaya (yang juga dikenal sebagai Ki Kerti Jaya) tiba pertama kali dan bermukim (mesanggah) di Puncak Mahameru, lalu disusul oleh keluarganya.

Bersama Ki Angganaya, mereka mulai membabat hutan untuk dijadikan permukiman dan lahan bercocok tanam.

Sayembara Ki Angganaya

Dalam proses membuka lahan, terdapat satu pohon besar yang sangat sulit ditebang karena dipercaya menjadi tempat berkumpulnya makhluk halus. Ki Angganaya lantas menggelar sayembara:

"Barang siapa yang mampu menebang pohon tersebut, jika perempuan akan diangkat menjadi saudara, dan jika laki-laki akan dijadikan menantunya."

Seorang pemuda bernama Ki Semarajaya berhasil menuntaskan tantangan tersebut. Atas keberhasilannya menyingkirkan ranggas (penghalang), ia diberi julukan Ki Rangga Sejati.

Sementara itu, berkat jasa dan kepemimpinannya dalam membangun wilayah tersebut, Ki Angganaya dihormati oleh warga dengan gelar Ki Gede Lebakbarang. Gelar inilah yang kelak menjadi cikal bakal nama Desa dan Kecamatan Lebakbarang hingga saat ini.

Baca Juga : Jejak Sejarah Kabupaten Pekalongan: Dari Masa Kerajaan hingga Era Modern

Makna Spiritual Puncak Mahameru

Ki Kerta Jaya dan Ki Angganaya—yang juga merupakan bagian dari prajurit Pangeran Diponegoro—menghabiskan masa hidupnya dan dimakamkan di Puncak Mahameru.

Masyarakat setempat meyakini bahwa kata Mahameru mengandung filosofi mendalam dari Aksara Jawa dan ajaran Islam melalui istilah "Mahamara":

Maha (Ma = 16, Ha = 1): Merekflesikan angka 17, lambang 17 Rakaat dalam salat wajib sehari-semalam.

Mara (Ma = 16, Ra = 4): Merepresentasikan angka 20, lambang 20 Sifat Wujud Allah.

Makna filosofis ini menandakan bahwa para pahlawan yang dimakamkan di Puncak Mahameru adalah para aulia/wali yang senantiasa mengamalkan nilai-nilai keislaman semasa hidupnya.

Tradisi dan Penghormatan Masyarakat

Hingga hari ini, makam para leluhur di Puncak Mahameru tetap dijaga dan dihormati. Setiap memasuki Bulan Asura dan Bulan Sya'ban, masyarakat Desa Lebakbarang beserta peziarah dari luar daerah rutin mengadakan tradisi bersih makam dan selamatan. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus upaya merawat ingatan sejarah atas jasa para pendiri wilayah tersebut.

Penulis : Tim Redaksi - Dari berbagai sumber

Belum ada Komentar

Posting Komentar

Terima Kasih telah berkunjung ke Pekalongan Media.com, kantor berita Pekalongan. Silahkan tinggalkan komentar anda terkait artikel maupun berita yang baru saja dibaca. Redaksi kami menerima kiriman berita, artikel atau informasi lainnya. Silahkan hubungi kontak kami

Iklan Atas Artikel

motor honda jateng

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel